Tingkatkan Kualitas Organisasi, FORKOMMADIKA UGM DAN FORESMA UNS Gelar Studi Banding Bertajuk Capacity Building

Yogyakarta, 7 September 2025 – Kampus Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi saksi pertemuan strategis dua himpunan mahasiswa kehutanan terkemuka di Jawa Tengah dan DIY. Forum Komunikasi Mahasiswa Diploma Kehutanan (FORKOMMADIKA) UGM menyambut hangat kunjungan studi banding dari Himpunan Mahasiswa Pengelolaan Hutan (FORESMA) Universitas Sebelas Maret (UNS).

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat ini, kedua organisasi sepakat mengangkat tema besar “Rimbawan Muda Bersinergi: Capacity Building dan Penguatan Program Kerja Mahasiswa Pengelolaan Hutan”. Pemilihan tema ini bukan tanpa alasan; di tengah dinamika isu lingkungan global yang kian kompleks, organisasi mahasiswa dituntut tidak hanya aktif berkegiatan, namun juga memiliki kapasitas sumber daya manusia yang mumpuni dan program kerja yang berdampak nyata.

Kunjungan ini terasa istimewa dengan kehadiran langsung Pembina FORKOMMADIKA UGM, Ir. Denni Susanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D., yang turut mendampingi para mahasiswa dalam menyambut rombongan dari Solo. Kehadiran beliau menjadi bentuk dukungan nyata pihak prodi terhadap pengembangan soft skill dan jejaring organisasi mahasiswa.

Dalam sambutannya, Ir. Denni Susanto mengapresiasi inisiatif kedua himpunan untuk duduk bersama membahas peningkatan kapasitas (capacity building). Beliau menekankan bahwa tantangan pengelolaan hutan ke depan membutuhkan sinergi antara kedalaman analisis ilmiah (S1) dan ketajaman keterampilan teknis (D4/Sarjana Terapan).

“Saya sangat bangga melihat FORKOMMADIKA dan FORESMA dapat bersinergi. Sebagai rimbawan muda, kalian tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi antara UGM dan UNS ini harus menghasilkan output nyata, baik dalam peningkatan kompetensi individu maupun program kerja yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” pesan Denni Susanto di hadapan seluruh peserta.

Kemudian ketua FORKOMMADIKA Favian Bagus Abhyasa memberikan sambutan atas kegiatan studi banding ini. Favian menekankan bahwa perbedaan kurikulum antara Sarjana Terapan (D4) UGM yang berbasis praktik dan Sarjana (S1) UNS yang berbasis riset akademik justru menjadi kunci kekuatan dalam sinergi ini.

“Tema hari ini sangat krusial: Capacity Building. Kami di UGM kuat di teknis lapangan, teman-teman UNS kuat di analisis kebijakan dan teori. Jika dua kekuatan ini bersinergi dalam penyusunan program kerja, dampaknya bagi masyarakat dan lingkungan akan jauh lebih besar,” ujar Favian dalam sambutannya.

Agenda inti dari studi banding ini berfokus pada dua sesi utama, yakni Sharing Session Program Kerja dan Workshop Peningkatan Kapasitas Organisasi. Dalam sesi diskusi yang dibagi per departemen, kedua himpunan saling “membuka dapur” organisasi masing-masing untuk mengevaluasi efektivitas program yang telah berjalan.

Beberapa poin krusial yang menjadi sorotan dalam diskusi penguatan program kerja meliputi:

  1. Inovasi Kaderisasi Berbasis Kompetensi: Merumuskan metode pengkaderan yang tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga membekali anggota baru dengan skill spesifik kehutanan (GIS, Drone, Inventarisasi) sejak dini sebagai bentuk capacity building nyata.
  2. Transformasi Program Pengabdian: Menggeser paradigma program kerja sosial dari sekadar “bakti sosial” menjadi “pemberdayaan masyarakat desa hutan” yang berkelanjutan.
  3. Manajemen Isu Strategis: Bagaimana himpunan mahasiswa dapat merespon isu kebakaran hutan atau konflik tenurial dengan kajian yang berbasis data (gabungan data lapangan vokasi dan analisis akademik).
  4. Digitalisasi Organisasi: Pemanfaatan teknologi informasi untuk administrasi yang lebih rapi dan branding organisasi yang lebih luas jangkauannya.

Suasana semakin cair ketika para mahasiswa saling bertukar cerita mengenai tantangan internal organisasi. FORESMA UNS membagikan pengalaman mereka dalam mengelola dinamika massa kampus yang besar di Solo, sementara FORKOMMADIKA UGM memaparkan strategi menjalin kemitraan dengan industri kehutanan yang menjadi ciri khas pendidikan vokasi.

Melalui kegiatan ini, diharapkan “Rimbawan Muda Bersinergi” tidak hanya berhenti sebagai jargon tema semata, tetapi termanifestasi dalam peningkatan kualitas (upgrade) individu pengurus dan lahirnya program-program kerja kolaboratif yang solutif di masa depan.

Selamat kepada FORKOMMADIKA UGM dan FORESMA UNS! Semoga pertemuan ini menjadi bahan bakar semangat untuk terus berbenah dan berkarya demi kelestarian hutan Indonesia.

SDGs 4, SGDs 15, SDGs 17