Sebanyak 12 mahasiswa Program Studi Pengelolaan Hutan angkatan 2026, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada, menjalani magang mandiri di Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ), Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, selama periode 29 Juni hingga 21 Juli 2026. Program ini dirancang secara mandiri oleh mahasiswa sebagai wadah untuk mengaplikasikan langsung ilmu kehutanan yang telah dipelajari di bangku perkuliahan, mulai dari pengelolaan kawasan, ekosistem hutan tropis, hutan mangrove, hutan pantai, lamun, konservasi penyu, dan pengembangan ekowisata.
Salah satu kegiatan utama yang dijalani oleh mahasiswa adalah patroli terestrial di kawasan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Kemujan dan SPTN II Karimunjawa. Bersama polisi kehutanan (Polhut) dan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), mahasiswa ikut memeriksa dan merawat pal batas kawasan konservasi di Resort Legon Lele, Jati Kerep, dan Alang-alang, sekaligus mencatat kondisi pal yang rusak untuk keperluan evaluasi.

Selain di darat, para mahasiswa juga dilibatkan dalam patroli laut menggunakan aplikasi Spatial Monitoring and Reporting Tools (SMART) Patrol untuk memantau aktivitas kapal wisata dan mendeteksi potensi pelanggaran, termasuk temuan kapal wisata yang mengangkut penumpang melebihi kapasitas serta laporan aktivitas penangkapan ikan tidak berizin di perairan sekitar pulau.

Mahasiswa juga turut membantu evakuasi telur penyu di Pulau Krakal Besar dan mengenal lebih dekat pengelolaan Penetasan Semi Alami (PSA) Penyu Taman Nasional Karimunjawa (TNKJ). Terdapat dua jenis penyu yang dilindungi di kawasan ini, yaitu penyu hijau dan penyu sisik, kegiatan konservasi penyu di mulai dari pengambilan telur di sarang alami, penyimpanan pada media pasir kering, hingga perawatan tukik sebelum dilepasliarkan ke laut. Kegiatan ini sejalan dengan upaya pencapaian SDG 14 (Ekosistem Lautan), mengingat PSA berperan penting dalam menjaga keberlangsungan populasi penyu yang berstatus terancam punah.

Pada aspek vegetasi pesisir, mahasiswa melakukan analisis vegetasi mangrove di wilayah Karimunjawa dan Kemujan menggunakan metode kuadrat. Hasilnya dapat teridentifikasi delapan spesies mangrove sejati, dengan Lumnitzera racemosa tercatat sebagai spesies dominan berdasarkan Indeks Nilai Penting (INP). Tingkat keanekaragaman jenis tumbuhan mangrove tergolong sedang hingga tinggi berdasarkan indeks Shannon-Wiener dan Simpson, menandakan kondisi ekosistem mangrove yang masih relatif stabil. Kegiatan ini mendukung SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan), mengingat peran mangrove sebagai penyimpan karbon serta pelindung garis pantai dari abrasi.

Mahasiswa juga melakukan pengamatan padang lamun di Pantai Alang-alang dan Pantai Mrican dengan metode transek kuadrat yang mengadaptasi pendekatan SeagrassNet. Ditemukan variasi jenis lamun antara dua lokasi tersebut, dengan tingkat tutupan yang tergolong kurang sehat sehingga menjadi catatan penting bagi pengelola dalam upaya konservasi padang lamun ke depan. Pengamatan ini turut berkontribusi terhadap capaian SDG 14 mengingat peran vital lamun sebagai daerah asuhan biota laut.
Selain aspek ekologi, tim magang juga menyoroti sisi ekonomi masyarakat pesisir melalui kunjungan ke kelompok usaha pengolahan rumput laut SPKP Mangga Delima di Desa Kemujan. Kelompok ini mengolah rumput laut menjadi berbagai produk pangan bernilai tambah, seperti stik, kerupuk, dan manisan, yang dipasarkan secara offline dengan memanfaatkan layanan ekspedisi DAMRI untuk pengiriman ke pelabuhan, serta dititipkan langsung ke berbagai toko oleh-oleh di dekat kawasan wisata di wilayah Karimunjawa. Kegiatan ini menjadi contoh nyata pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal yang mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).

Di sisi pariwisata, mahasiswa menyebarkan kuesioner kepada wisatawan di Pantai Tanjung Gelam dan Pantai Bobby untuk menilai empat aspek ekowisata, yaitu atraksi, amenitas, aksesibilitas, dan ancillary services. Hasilnya menunjukkan kedua pantai memiliki daya tarik alam yang sangat diminati wisatawan, meski masih perlu peningkatan pada sisi fasilitas dan pelayanan pemandu lokal.

Secara keseluruhan, magang mandiri di TNKJ memberikan mahasiswa pengalaman langsung mengenai kompleksitas pengelolaan kawasan konservasi perairan, sekaligus memperkuat pemahaman tentang bagaimana pelestarian ekosistem dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekowisata berkelanjutan.
Penulis: Mahasiswa Magang Mandiri Pengelolaan Hutan Angkatan 2025