Tsukuba City, Jepang — 22 April 2026. Singgih Utomo, Dosen Program Studi Pengelolaan Hutan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, menghadiri undangan Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia untuk mengikuti Training on Environmental, Social and Economic Assessment for Formation of Afforestation Incentives di Tsukuba City, Prefektur Ibaraki, Jepang. Kegiatan ini merupakan bagian dari kolaborasi penelitian internasional melalui skema Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) dengan judul “Strengthening Tropical Forest Resilience Based on Management and Utilization of Genetic Resources Capable of Climate Change Adaptation” selama 5 tahun, yaitu tahun 2022-2026. Kolaborasi multi pihak diprakarsai oleh Fakultas Kehutanan UGM berkerja sama dengan Japan International Research Center for Agricultural Sciences (JIRCAS), Jepang serta didukung oleh Sekolah Vokasi UGM, peneliti dari BRIN, KLHK, Perum Perhutani, PT Sari Bumi Kusuma, PT Kutai Timber Indonesia, Sumitomo Forestry, the University of Tsukuba, the Forestry and Forest Products Research Institute/FPPRI, the National Institute for Environmental Sciences, and Nagasaki University.
Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas penilaian lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam mendorong insentif aforestasi, sekaligus memperkuat jejaring riset antara UGM dan institusi penelitian Jepang. Dalam rangkaian kegiatan, peserta melakukan kunjungan ke Sumitomo Forestry Research Center di Tsukuba, salah satu pusat riset kayu paling maju di Jepang. Peserta mendapatkan pemaparan mengenai inovasi konstruksi bangunan bertingkat menggunakan kayu Sugi (Cryptomeria japonica) dan Hinoki (Chamaecyparis obtuse), yang dirancang dengan teknologi tinggi sehingga menghasilkan struktur yang kokoh, tahan gempa, hemat energi, dan bahkan tahan api.
Selain keunggulan teknis, teknologi konstruksi kayu yang dikembangkan Sumitomo Forestry juga memiliki manfaat ekologis signifikan. Penggunaan kayu sebagai bahan bangunan memungkinkan penyimpanan karbon dalam jumlah besar, sehingga berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim. Limbah kayu dari proses konstruksi pun dimanfaatkan sebagai energi biomassa, sejalan dengan konsep circular bioeconomy.
Dalam sesi diskusi, Singgih Utomo menyampaikan perspektif mengenai pengelolaan hutan tanaman di Indonesia, termasuk produktivitas, tantangan lapangan, serta peluang kolaborasi riset yang dapat diperluas. Hal ini relevan mengingat Sumitomo Forestry memiliki konsesi hutan tanaman di Kalimantan dengan jenis Acacia crassicarpa, serta anak perusahaan PT Kutai Timber Indonesia yang mengembangkan komoditas cepat tumbuh seperti sengon dan balsa di Pulau Jawa.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari para pihak berkontribusi terhadap SDGs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dan SDGs 15 (Ekosistem Daratan). Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat kerja sama riset kehutanan Indonesia–Jepang, sekaligus membuka peluang penerapan teknologi konstruksi kayu ramah lingkungan di Indonesia.
