Yogyakarta. Kelompok peneliti dari Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), melaksanakan penelitian untuk mengidentifikasi kawasan bernilai konservasi tinggi di Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh (CB MMM). Penelitian bertajuk “Analisis Kelayakan Jasa Lingkungan dalam Penentuan Area Konservasi Prioritas di Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh” ini mengusung pendekatan yang menggabungkan dua aspek yang selama ini lebih sering dikaji secara terpisah, yaitu keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan berbasis hutan.
Cagar biosfer yang membentang di sembilan kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Tengah serta Daerah Istimewa Yogyakarta ini menaungi kawasan konservasi strategis, yakni Taman Nasional Gunung Merapi, Taman Nasional Gunung Merbabu, dan Suaka Margasatwa Sermo. Selain menjadi habitat bagi puluhan spesies fauna, termasuk macan tutul jawa, trenggiling sunda, dan elang jawa yang berstatus terancam punah, kawasan ini juga menopang kebutuhan air, pangan, dan mata pencaharian ratusan ribu warga di sekitarnya, mulai dari zona penyangga hingga wilayah transisi yang meliputi ratusan desa.
Ketua tim peneliti, Ir. Denni Susanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa pendekatan konservasi yang hanya berfokus pada satu aspek, baik distribusi spesies maupun jasa ekosistem semata, memiliki keterbatasan dalam menjawab tekanan degradasi lahan yang terus berlangsung.

“Kami ingin melihat dua sisi ini secara bersamaan, karena kawasan yang penting bagi kelestarian satwa belum tentu sama dengan kawasan yang paling besar manfaat jasa lingkungannya bagi masyarakat. Titik temu keduanya itulah yang perlu kita ketahui bersama,” ujar Denni.
Signifikansi utama penelitian ini terletak pada integrasi dua kerangka pemodelan yang selama ini jarang digabungkan dalam satu kajian di lanskap tropis Indonesia, yaitu MaxEnt (Maximum Entropy) untuk memodelkan kesesuaian habitat spesies, dan InVEST (Integrated Valuation of Ecosystem Services and Tradeoffs) untuk mengkuantifikasi jasa lingkungan seperti penyediaan air, penyimpanan karbon, dan pengendalian erosi. Kedua model tersebut biasanya digunakan secara terpisah dalam kajian konservasi. Dengan menumpangsusunkan (overlay) peta kesesuaian habitat hasil MaxEnt dan peta jasa lingkungan hasil InVEST, tim peneliti berupaya merumuskan kelas prioritas konservasi yang mempertimbangkan baik nilai biodiversitas maupun manfaat ekosistem bagi masyarakat sekaligus, bukan salah satunya saja.
Secara teknis, data biofisik, iklim, tutupan lahan, hingga jejak aktivitas manusia akan diolah menggunakan perangkat sistem informasi geografis sebagai masukan bagi kedua model tersebut, sebelum hasilnya diintegrasikan melalui analisis spasial untuk penentuan zona prioritas.
Penelitian yang berlangsung selama enam bulan, Mei hingga Oktober 2026, ini melibatkan tujuh belas peneliti dan mahasiswa lintas angkatan, serta didukung pendanaan skema Penelitian Afirmasi Sekolah Vokasi UGM Tahun Anggaran 2026. Selain menghasilkan laporan akhir dan draf publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi, tim juga akan memaparkan temuan awal dalam Seminar Nasional Teknologi Terapan sebagai bagian dari diseminasi hasil kepada publik dan pemangku kepentingan.
Inisiatif ini sejalan dengan komitmen global dalam Kunming Montreal Global Biodiversity Framework yang menargetkan perlindungan sedikitnya 30 persen wilayah bernilai keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem tinggi pada 2030. Di tingkat tapak, hasil pemetaan diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan bagi pengelola kawasan dan pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan zonasi serta strategi pengelolaan Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh yang lebih terpadu, tidak hanya untuk kepentingan pelestarian alam, tetapi juga keberlanjutan penghidupan masyarakat di sekitarnya.
Penelitian ini turut mendukung capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya Tujuan 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), Tujuan 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan Tujuan 15 (Ekosistem Daratan). Hasil penelitian yang lebih rinci akan disampaikan secara bertahap setelah proses pengambilan dan analisis data lapangan rampung pada akhir tahun ini.