Dosen Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan UGM Bawa Riset Perhutanan Sosial Indonesia ke Panggung Akademik Universitas Tokyo

YOGYAKARTA— Sebuah pencapaian membanggakan ditorehkan oleh civitas akademika Universitas Gadjah Mada di awal tahun 2026. Dr. Ir. Wiyono, S.Hut., M.Si., IPU., dosen Program Studi Pengelolaan Hutan Sekolah Vokasi UGM, tampil sebagai pembicara undangan dalam The 21st ARC-BRES Bioresource and Environmental Sciences Seminar yang digelar oleh Asian Research Center for Bioresource and Environmental Sciences (ARC-BRES), Graduate School of Agricultural and Life Sciences, Universitas Tokyo, Jepang, pada Rabu, 18 Februari 2026.

Undangan tersebut datang langsung dari Prof. Dr. Katsumi Kojima, Direktur ARC-BRES Universitas Tokyo, tertanggal 16 Januari 2026. Dr. Wiyono diundang tidak hanya untuk mempresentasikan hasil risetnya, tetapi juga untuk mendiskusikan peluang kolaborasi penelitian di bidang rehabilitasi dan konservasi hutan tropis Asia Tenggara—sebuah bidang yang selama ini menjadi fokus utama rekam jejak akademiknya.

Riset dari Gunungkidul untuk Dunia

Di hadapan para akademisi internasional yang hadir secara langsung di Nakashima Hall maupun daring dari berbagai penjuru dunia, Dr. Wiyono mempresentasikan riset berjudul “Collaborative Forest Management in Indonesia: Lessons Learned from the Implementation of the Social Forestry Program in Special Region of Yogyakarta.”

Riset tersebut mengangkat pergeseran paradigma pengelolaan hutan secara global—dari model berbasis negara menuju model berbasis komunitas—yang di Indonesia diwujudkan melalui Program Perhutanan Sosial. Studi ini dilakukan pada empat Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan di Kabupaten Gunungkidul, DIY, yang sejak 1995 telah mengelola kawasan hutan dengan hak kelola resmi selama 35 tahun bersama berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, LSM, hingga sektor swasta.

Hasilnya? Program ini terbukti mendorong perubahan sosial nyata di tiga tingkatan sekaligus: pada individu petani, organisasi kelompok tani hutan, dan komunitas secara menyeluruh. Dari riset ini lahir dua model konseptual, yakni Model Pemberdayaan Masyarakat dan Model Development Communication for Social Change (DCSC), yang menawarkan kerangka baru bagi pengembangan kebijakan perhutanan sosial—tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga dapat diadaptasi oleh daerah-daerah lain di Indonesia yang sedang mengembangkan program serupa.

“Program Perhutanan Sosial bukan sekadar soal izin kelola hutan. Ini tentang bagaimana masyarakat, pemerintah, NGO, dan akademisi bisa duduk bersama, membangun kepercayaan, dan bekerja secara kolaboratif demi kepentingan bersama,” ujar Dr. Wiyono.

Membuka Peluang Kolaborasi Riset Indonesia–Jepang

Kehadiran Dr. Wiyono di Tokyo bukan sekadar seremonial. Di sela-sela seminar, ia memanfaatkan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan para peneliti ARC-BRES mengenai kemungkinan kerja sama riset ke depan, khususnya dalam isu-isu yang menjadi kepentingan bersama antara Indonesia dan Jepang di bidang kehutanan tropis dan pemberdayaan komunitas.

ARC-BRES sendiri merupakan pusat riset internasional yang secara rutin mempertemukan para peneliti dari berbagai negara melalui seminar ilmiah yang digelar setiap enam bulan sekali. Forum semacam inilah yang kerap menjadi titik awal lahirnya kolaborasi akademik lintas negara yang lebih konkret.

Keikutsertaan Dr. Wiyono dalam forum bergengsi ini sekaligus membuktikan bahwa riset yang lahir dari lingkungan Prodi Pengelolaan Hutan UGM mampu diakui dan diapresiasi di panggung akademik internasional—membawa nama Indonesia, dan Yogyakarta, ke hadapan komunitas ilmiah Asia dan dunia.

Artikel ini berkaitan dengan pencapaian SDGs poin ke-13 (Penanganan Perubahan Iklim), poin ke-15 (Ekosistem Daratan), dan poin ke-17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).