Situbondo, 27 Juli 2026 — Sembilan mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada melaksanakan program Magang Mandiri di Balai Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur pada 13–19 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari kurikulum program studi yang dirancang untuk memberi mahasiswa pengalaman langsung di instansi pengelola kawasan konservasi.
Taman Nasional Baluran dipilih sebagai lokasi magang karena keunikan ekosistemnya. Kawasan yang dijuluki “Africa van Java” ini memadukan savana, hutan musim, mangrove, dan ekosistem pesisir dalam satu kawasan seluas 29.706,59 hektar yang menjadikannya salah satu kawasan konservasi dengan keanekaragaman ekosistem tertinggi di Pulau Jawa.
SDG 4 — Pendidikan Berkualitas Program Magang Mandiri memberi mahasiswa kesempatan belajar langsung di kawasan konservasi aktif, melengkapi pembelajaran teori yang diperoleh di perkuliahan dengan pengalaman kerja nyata di lapangan.
Selama tujuh hari, kelompok yang terdiri dari Sania Ghaziyah Marsy, Bagas Oktariano, Sandra Glory Asmara Sitompul, Muhammad Navies Arrasyi, Zidni Ilman Nafiah, Aghis Maeseva Lumae, Fakhri Thirafi, Rajib Nurraihan, dan Muhammad Tsabit Hudzaifah ini melaksanakan dua program kerja utama di bawah koordinasi SPTN Wilayah II Karangtekok.

Program kerja pertama adalah monitoring kebakaran hutan dan lahan. Baluran dikenal sebagai kawasan yang rentan terhadap kebakaran, terutama di musim kemarau, karena lebih dari sepertiga luas kawasannya berupa savana kering. Kelompok melakukan pendekatan dua tahap: analisis citra satelit menggunakan perangkat lunak QGIS sebelum keberangkatan, dilanjutkan dengan observasi langsung di lapangan untuk memverifikasi hasil analisis tersebut. Laporan hasil monitoring diserahkan kepada Balai Taman Nasional Baluran sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan kawasan.
Program kerja kedua adalah identifikasi terumbu karang di perairan Pantai Bilik Jeding. Kegiatan ini dilakukan melalui pengamatan langsung dan dokumentasi foto bawah air di area meja transplantasi karang yang merupakan bagian dari program restorasi ekosistem pesisir yang sedang dijalankan oleh Balai Taman Nasional Baluran. Hasil pengamatan disusun dalam bentuk laporan deskriptif sebagai data awal kondisi program transplantasi.
SDG 14 — Kehidupan Bawah Laut: Identifikasi kondisi terumbu karang di area transplantasi mendukung upaya pemantauan dan evaluasi program restorasi ekosistem pesisir Taman Nasional Baluran.

SDG 15 — Kehidupan di Darat: Monitoring kebakaran hutan berbasis data satelit yang divalidasi di lapangan berkontribusi pada upaya perlindungan ekosistem savana dan hutan Taman Nasional Baluran dari ancaman yang berulang setiap musim kemarau.
Kegiatan magang ini dilaksanakan di bawah bimbingan Bapak Ahdiar Fikri Maulana, S.Hut., M.Agr., Ph.D. selaku dosen pembimbing dari Program Studi Pengelolaan Hutan Sekolah Vokasi UGM. Selain dua program kerja utama, kelompok juga mengikuti kegiatan orientasi kelembagaan, kunjungan ke Resort Bitakol, Watunumpuk dan Merak serta koordinasi langsung dengan petugas lapangan Balai Taman Nasional Baluran.

“Apa yang kami pelajari di sini tidak bisa sepenuhnya didapatkan di ruang kelas. Kami melihat langsung betapa kompleksnya menjaga kawasan konservasi, mulai dari ancaman kebakaran yang dapat terjadi sewaktu-waktu hingga upaya menjaga keseimbangan antara perlindungan ekosistem dan kebutuhan masyarakat sekitar,” ujar Sania Ghaziyah Marsy, salah satu anggota magang sekaligus koordinator kelompok.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman teknis di bidang monitoring kebakaran dan ekosistem pesisir, tetapi juga pemahaman langsung tentang sistem pengelolaan kawasan konservasi, tantangan yang dihadapi pengelola di lapangan, dan relevansi keilmuan yang mereka pelajari di bangku kuliah dengan kebutuhan dunia kerja nyata.
Pengalaman magang di Taman Nasional Baluran juga memberikan perspektif baru tentang tantangan nyata yang dihadapi pengelola kawasan konservasi di Indonesia. Keterbatasan sumber daya manusia, luasnya kawasan yang harus dijaga, hingga tekanan dari aktivitas manusia disekitar kawasan menjadi pelajaran yang tidak akan ditemukan di ruang kelas. Pengalaman ini diharapkan membentuk lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan teradap isu-isu konservasi yang sesungguhnya.
Program Magang Mandiri merupakan salah satu wujud komitmen Program Studi Pengelolaan Hutan Sekolah Vokasi UGM dalam menghasilkan lulusan yang siap berkontribusi di di dunia kerja bidan kehutanan dan konservasi. Dengan bekal pengalaman langsung di lapangan, mahasiswa diharapkan mampu menjadi tenaga profesional yang adaptif dan berdedikasi dalam menjaga kelestarian sumber daya alam Indonesia.
SDG 17 — Kemitraan untuk Tujuan : Kolaborasi antara Program Studi Pengelolaan Hutan Sekolah Vokasi UGM dengan Balai Taman Nasional Baluran merupakan bentuk nyata kemitraan antara perguruan tinggi dan instansi pemerintah dalam mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan.
Tag SDGs 4, SDGs 14, SDGs 15 dan SDGs 17
Penulis: Sania Ghaziyah Marsy