Pengelolaan hutan yang berkelanjutan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki pengalaman praktik di lapangan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kolaborasi antara Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Kesatuan Pemangkuan Hutan Cepu (KPH Cepu) Perum Perhutani yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar langsung di lapangan. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam membekali mahasiswa dengan kompetensi pengelolaan hutan yang adaptif terhadap tantangan kehutanan masa kini. Hal ini juga ditegaskan Administratur KPH Cepu Yeni Ernaningsih saat membuka acara praktek pada Selasa 23 Juni 2026. “Pengalaman di lapangan akan membantu peningkatan kompetensi, selain kegiatan akademik di kampus” tegas Ibu Yeni. Beliau menambahkan perlu juga mahasiswa melengkapi softskill dengan berorganisasi baik intra kampus maupun ekstra kampus.

Pengalaman tersebut semakin diperkaya melalui praktik lapangan di Perhutani KPH Cepu, di mana mahasiswa mempelajari proses pengelolaan dan perencanaan kehutanan. Mahasiswa dikenalkan pada tahapan inventarisasi sumber daya hutan, pemetaan kawasan, penyusunan rencana pengelolaan, hingga perencanaan pemanfaatan hasil hutan berdasarkan prinsip kelestarian. Praktik ini memberikan gambaran nyata bahwa perencanaan merupakan fondasi utama dalam mewujudkan pengelolaan hutan yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.
Selain mempelajari pengelolaan kawasan hutan, mahasiswa juga mendapatkan materi mengenai perbenihan tanaman hutan, yang menjadi dasar pembangunan hutan berkualitas. Melalui fasilitasi Perhutani Forestry Institute (PeFI), mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai materi perbenihan ini. Menurut Kepala Seksi Utama Pengelolaan Benih dan Bibit PeFI, Tris Wahyudi, praktik lapangan ini dirancang agar mahasiswa memperoleh pengalaman nyata dalam pengelolaan sumber benih kehutanan. “Selama kegiatan, mahasiswa mempelajari setiap tahapan pengelolaan sumber benih, mulai dari proses pengunduhan buah, pengolahan dan pengujian mutu benih, hingga penelitian yang berfokus pada pengembangan klon-klon unggul beserta inovasinya,” tuturnya. Benih unggul akan menghasilkan bibit unggul, yang selanjutnya membentuk tegakan hutan dengan produktivitas dan kualitas yang lebih baik. Prinsip ini dirangkum dalam ungkapan “Good seed is not expensive, it paid off.”

Mahasiswa juga mempelajari strategi pemuliaan pohon, pembangunan berbagai tipe sumber benih, seperti tegakan benih, kebun benih semai, kebun benih klon, hingga kebun pangkas. Seluruh rangkaian tersebut bertujuan menghasilkan material genetik unggul sekaligus menjaga keragaman genetik sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan hutan lestari.
Sebagai bagian dari pengelolaan sumber benih, mahasiswa dikenalkan pada teknik pemeliharaan seperti demarkasi kawasan, perlindungan terhadap kebakaran, hama dan penyakit, penyiangan, penjarangan, isolasi sumber benih, hingga konservasi sumber daya genetik. Berbagai teknik tersebut berperan penting dalam menjaga kualitas benih sekaligus menjamin keberlanjutan sumber daya genetik tanaman hutan.
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak hanya menekankan penguasaan teori, tetapi juga membangun kompetensi melalui pembelajaran berbasis praktik (hands-on learning). Kolaborasi antara Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan Sekolah Vokasi UGM dan Perum Perhutani menjadi wujud sinergi antara dunia pendidikan vokasi dan dunia industri kehutanan dalam menghasilkan lulusan yang siap bekerja, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu berkontribusi dalam pengelolaan hutan berkelanjutan di Indonesia.
Tag SDGs 4, SDGs 15 dan SDGs 13