KULON PROGO — Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar rangkaian program pemberdayaan petani kopi bertajuk “Membangun Resiliensi Petani Kopi Menuju Green Economy: Penguatan Kapasitas KTH Taruna Tani Astabrata dalam Produksi Bibit Berkualitas melalui Smart Nursery“.
Kegiatan yang berpusat di Padukuhan Kalinongko, Kalurahan Pagerharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo ini dirancang untuk mendorong kemandirian dan daya tahan ekonomi masyarakat lokal melalui pendekatan teknologi modern dan ramah lingkungan.
Rangkaian kegiatan pengabdian ini telah dilaksanakan dalam dua tahap utama, yakni pada 26 Agustus 2026 dan 7 September 2026. Dalam pelaksanaannya, program ini berhasil menyatukan kolaborasi multipihak. Pada kegiatan kedua, program ini mendapat dukungan dari PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Rewulu serta dihadiri langsung oleh tim dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Samigaluh.
Edukasi Praktis dari Lokasi Persemaian hingga Otomasi Smart Nursery
Pada tahapan pertama (26 Agustus 2026), kegiatan diawali dengan sosialisasi program secara menyeluruh serta penyampaian materi teknis mengenai kriteria dan penentuan lokasi persemaian (nursery) yang ideal bagi tanaman kopi. Acara diawali dengan sambutan oleh Lurah Pagerharjo, Bapak Widayat, S.Sos., M.I.P, dengan harapan pengembangan kopi tidak hanya di hilir saja, tetapi juga mencakup proses hulu, yaitu produksi. Sosialisasi program disampaikan oleh Ir. Denni Susanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D selaku ketua pelaksana pengabdian kepada masyarakat, sedangkan materi persemaian disampaikan oleh Ir. Eko Prasetyo, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM. Secara umum, persemaian memerlukan lokasi yang dekat dengan sumber air, relatif datar dan akes yang mudah untuk pengangkutan bibit maupun alat dan bahan persemaian. Tipe persemaian yang direkomendasikan untuk kelompok tani kopi adalah persemaian permanen dibandingkan dengan persemaian sementara.

Selanjutnya, pada tahapan kedua (7 September 2026), para anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Taruna Tani Astabrata mengikuti pelatihan praktis pembiakan vegetatif. Petani diajarkan teknik sambung pucuk (grafting) dan okulasi untuk menghasilkan bibit kopi unggul dan berkualitas tinggi. Tak hanya itu, tim UGM yaitu Dr. Muhammad Idham Ananta Timur, M.Kom, memperkenalkan konsep smart nursery, khususnya pada aspek sistem otomasi dan penerapan sensor kelembaban guna menjaga kondisi ideal pertumbuhan bibit secara lebih efisien. Dua faktor yang perlu diperhatikan untuk menjalankan smart nursery adalah listrik dan internet. Kedua faktor tersebut menjadi pembahasan dan diskusi hangat selama acara. Tukar menukar informasi terjadi pada pelatihan ini. Teknik membawa pucuk kopi pilihan untuk disambung di lapangan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pucuk kopi dibungkus kertas koran yang dibasahi menjadi cara yang diajarkan dalam pelatihan. Sedangkan pucuk kopi dibungkus dengan pelepah pisang menjadi cara yang lazim dipraktekkan kelompok tani. Kedua cara tersebut dapat digunakan karena mempunyai prinsip yang sama.

Secara komprehensif, program pengabdian ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas KTH Taruna Tani Astabrata melalui:
- Desain dan pembangunan infrastruktur smart nursery.
- Penerapan sensor kelembapan otomatis untuk meningkatkan efisiensi perawatan.
- Pelatihan teknik pembibitan dan budidaya kopi berkelanjutan.
- Pendampingan pengelolaan nursery berbasis pengetahuan lokal yang dipadukan dengan Teknologi Tepat Guna (TTG).

Kontribusi Nyata Terhadap Pelaksanaan SDGs
Program pemberdayaan ini juga menjadi wujud nyata komitmen akademisi dan mitra industri dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), antara lain:
- SDG 1: Tanpa Kemiskinan (No Poverty)— Mendorong peningkatan kapasitas petani serta membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru berbasis komoditas kopi lokal.
- SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth)— Pengembangan smart nursery diproyeksikan menjadi model usaha produktif yang dapat dikelola secara mandiri dan berkelanjutan oleh kelompok tani.
- SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action)— Penggunaan teknologi pembibitan yang adaptif dan hemat air membantu meningkatkan resiliensi petani terhadap dampak perubahan iklim global.
- SDG 15: Ekosistem Daratan (Life on Land)— Memperkuat pengelolaan hutan rakyat melalui produksi bibit kopi berkualitas berbasis potensi lokal untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat, pemerintah lokal, dan sektor industri, diharapkan Desa Pagerharjo dapat bertransformasi menjadi sentra percontohan budidaya kopi berbasis green economy di wilayah Kulon Progo.