Penanaman, pemeliharan dan pemanenan merupakan fase ataupun tahap dalam pengelolaan hutan. Pemanenan hutan merupakan proses mengeluarkan hasil hutan berupa kayu ataupun nonkayu dari dalam hutan menuju ke luar kawasan hutan/industri pengolahan. Kemampuan lapangan dalam pemanenan hutan diperlakukan mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu kompetensi yang harus dimiliki. Sebanyak 74 mahasiswa melaksanakan kegiatan Praktik Umum Penebangan di Petak 33 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Payaman, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Cepu, Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran lapangan yang bertujuan memberikan pengalaman langsung mengenai proses pemanenan kayu sesuai dengan kaidah teknis, keselamatan kerja, dan pengelolaan hutan lestari. Selama pelaksanaan kegiatan, mahasiswa didampingi oleh dosen Program Studi Pengelolaan Hutan, Ir. Rochmad Hidayat, S.Hut., M.Sc., yang membimbing mahasiswa dalam menghubungkan konsep teoritis dengan praktik pemanenan kayu di lapangan.
Sebelum praktik lapangan dimulai, mahasiswa memperoleh pembekalan materi dari Kepala Sub Seksi Produksi Perum Perhutani KPH Cepu, Karsono, mengenai sistem dan teknis pemanenan kayu yang diterapkan di Perum Perhutani KPH Cepu. Materi yang disampaikan mencakup tahapan pemanenan, standar operasional penebangan, aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta pentingnya pelaksanaan pemanenan yang efisien dan tetap memperhatikan prinsip kelestarian hutan. Pembekalan tersebut memberikan gambaran awal sehingga mahasiswa memiliki pemahaman yang lebih baik sebelum melaksanakan praktik secara langsung di lapangan.
Selama kegiatan praktik, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengamati dan mempelajari seluruh tahapan penebangan pohon, mulai dari penandaan pohon yang akan ditebang, pemeriksaan kondisi lapangan, penentuan arah rebah, pembuatan takik rebah dan takik balas, hingga proses pembagian batang menjadi sortimen sesuai standar yang berlaku. Demonstrasi teknik penebangan dilakukan secara langsung oleh mandor tebang Perum Perhutani KPH Cepu, Agus, sehingga mahasiswa dapat memahami penerapan teknik penebangan yang benar, aman, dan sesuai prosedur operasional. Seluruh rangkaian kegiatan selanjutnya dilaksanakan di bawah bimbingan tenaga teknis Perum Perhutani dan dosen pendamping sehingga mahasiswa mampu mengaplikasikan teori yang telah dipelajari di bangku kuliah dalam kondisi lapangan yang sesungguhnya.
Praktik ini juga memberikan pemahaman mengenai pentingnya penerapan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam kegiatan pemanenan hutan. Penggunaan alat pelindung diri, komunikasi antartim, serta penerapan prosedur kerja yang aman menjadi aspek penting yang selalu ditekankan selama pelaksanaan kegiatan. Selain meningkatkan keterampilan teknis, mahasiswa juga dibekali pemahaman mengenai tanggung jawab profesional dalam menjaga keselamatan pekerja serta kelestarian sumber daya hutan.
Pelaksanaan praktik penebangan di KPH Cepu memperlihatkan bahwa kegiatan pemanenan kayu tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memperhatikan efisiensi, kualitas hasil tebangan, dan keberlanjutan pengelolaan hutan. Pengelolaan yang dilakukan secara terencana menjadi salah satu upaya untuk menjaga produktivitas tegakan sekaligus mendukung keberlangsungan fungsi ekologis hutan. Kegiatan ini sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Peningkatan kompetensi mahasiswa melalui pembelajaran lapangan mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas). Penerapan prosedur keselamatan kerja sejalan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Penggunaan teknik penebangan yang tepat mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), sedangkan pengelolaan hutan yang berkelanjutan berkontribusi terhadap SDG 15 (Ekosistem Daratan).

Melalui kegiatan Praktik Umum ini, mahasiswa diharapkan memiliki kompetensi teknis, kemampuan analisis lapangan, serta pemahaman yang lebih mendalam mengenai praktik pengelolaan hutan produksi yang berkelanjutan. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam mempersiapkan lulusan yang siap berkontribusi sebagai tenaga profesional di bidang kehutanan.
Penulis: Cynthia Anggraeni