Kulon Progo, 30 Juli 2025 — Upaya penguatan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan hutan berkelanjutan terus dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan diskusi dan wawancara bertema “Multi Usaha Kehutanan untuk Masyarakat Desa Hutan” yang dilaksanakan di kantor RPH Sermo, Daerah Istimewa Yogyakarta dan dilanjutkan dengan kunjungan ke beberapa Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan (KTHKm) setempat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan penelitian oleh dosen Program Studi Pengelolaan Hutan, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner dari Sekolah Vokasi Universitas Gajah Mada dengan judul “Model Multi Usaha Kehutanan dalam Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat di Kabupaten Kulon Progo”.
Kegiatan ini melibatkan dosen, mahasiswa, serta perwakilan KTHKm di Kulon Progo yang meliputi; 1) KTHKm Sido Akur, 2) KTHKm Menggerejo, 3) KTHKm Mandiri, 4) KTHKm Rukun Makaryo, 5) KTHKm Suko Makmur, 6) KTHKm Taruna Tani, 7) KTHKm Makmur. Diskusi difokuskan pada pemahaman, kelembagaan, dan pengembangan multi usaha kehutanan yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan. Dalam sesi diskusi, peserta membahas berbagai potensi usaha yang dapat dikembangkan di kawasan hutan, seperti budidaya tanaman tumpangsari meliputi kopi dan palawija, dan pengolahan hasil hutan bukan kayu (MPTS, empon-empon, akar pohon). Tak hanya itu, potensi ekowisata berbasis hutan di kawasan sekitar Waduk Sermo juga menjadi daya tarik tersendiri, seperti kegiatan wisata edukasi hutan, jelajah alam, dan camping ground yang dikelola oleh masyarakat. Pak Parijan selaku ketua KTHKm Suko Makmur menyampaikan, “Multi usaha kehutanan tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan, dan menjaga fungsi ekologis hutan”.

Hasil dari kegiatan tersebut menunjukkan bahwa KTHKm di Kulon Progo telah memahami konsep multi usaha kehutanan karena sudah diadakan sosialisasi oleh Dinas Kehutanan Provinsi DI Yogyakarta pada tahun 2022. Pemahaman tersebut membuat masyarakat lebih siap dalam mengelola sumber daya hutan secara produktif dan lestari. Dalam sesi akhir wawancara, anggota KTHKm menyampaikan harapan agar pemerintah terus memberikan dukungan dalam bentuk pendampingan teknis dan akses permodalan, akademisi berperan aktif dalam riset dan inovasi pengelolaan hutan berkelanjutan, serta LSM membantu dalam penguatan kelembagaan dan pemasaran produk hutan masyarakat. Pak Sampar selaku ketua KTHKm Rukun Makaryo menambahkan “Dengan dukungan dari semua pihak, kami berharap pengelolaan hutan berbasis masyarakat di Kulon Progo bisa menjadi contoh sukses sinergi antara ekonomi, sosial, dan lingkungan”.
Penerapan model ini juga sejalan dengan beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin 1 No Poverty (Tanpa Kemiskinan), poin 8 Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), poin 13 Climate Action (Penanganan Perubahan Iklim), serta poin 15 Life on Land (Ekosistem Daratan). Dengan demikian, multi usaha kehutanan menjadi strategi dan langkah nyata dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di tingkat tapak.
Penulis: Muhammad Husain Al Khansu