Kulon Progo, 24–26 Oktober 2025 — Upaya membangun sinergi antara dunia akademik dan masyarakat sekitar hutan terus digalakkan. Kegiatan bertema “Sinergi Akademisi dengan Masyarakat Sekitar Hutan” telah sukses dilaksanakan di Kelompok Tani Hutan (KTH) Sukomakmur dan KTH Rukun Makaryo, Desa Sendangsari, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 24–26 Oktober 2025, ini diikuti oleh dosen, mahasiswa, serta Masyarakat Desa Sendangsari, Kulon Progo. Berbagai aktivitas telah direncanakan sebelumnya, seperti musyawarah bersama masyarakat, dilanjutkan dengan pengukuran diameter dan pendugaan tinggi pohon, serta mengidentifikasi jenis pohon dan potensi hutan oleh mahasiswa secara langsung di lapangan.

Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan. Dalam kegiatan musyawarah hari pertama, masyarakat bersama mahasiswa dan dosen mendiskusikan potensi multi usaha kehutanan yang dapat dikembangkan di sekitar kawasan hutan, terutama di wilayah Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan (KTHKm) Sukomakmur dan Rukun Makaryo, seperti pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu, tanaman bawah tegakan (kopi, jahe, rumput pakan ternak), serta pengembangan ekowisata hutan. Pada hari kedua dan ketiga, dilaksanakan pengukuran diameter dan pendugaan tinggi pohon, serta mengidentifikasi jenis pohon dan potensi hutan oleh mahasiswa secara langsung di lapangan.
Kegiatan ini memberikan manfaat kepada banyak pihak terutama masyarakat karena mereka mendapatkan data dan informasi mengenai jenis serta potensi sumber daya hutan di wilayahnya, yang dapat dijadikan dasar dalam mengembangkan model multi usaha kehutanan seperti pengelolaan hasil hutan kayu dan bukan kayu, tanaman bawah tegakan (kopi, jahe, rumput pakan ternak), serta pengembangan ekowisata hutan. Bermanfaat untuk mahasiswa karena dapat meningkatkan kompetensi berharga dalam bidang inventarisasi hutan, termasuk pengukuran diameter dan tinggi pohon, identifikasi jenis, serta pendugaan potensi tegakan. Selain mendata jenis dan potensi hutan, kegiatan ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memahami langsung dinamika sosial, ekonomi, dan ekologi masyarakat dalam mengelola hutan yang berkelanjutan. Bermanfaat juga untuk akademisi dalam hal ini adalah dosen Program Studi Pengelolaan Hutan Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi UGM yang dapat melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, sekaligus memperkuat jejaring dengan masyarakat pengelola hutan. Kegiatan ini juga merupakan kegiatan lanjutan untuk mendukung penelitian dengan judul “Model Multi Usaha Kehutanan dalam Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat di Kabupaten Kulon Progo”.
“Kami berharap kegiatan ini terus berlanjut. Selain memberi pengetahuan tentang jenis dan potensi pohon, kegiatan ini juga membuka wawasan bahwa hutan bisa menjadi sumber kesejahteraan tanpa harus ditebangi,” ujar Pak Sampar, salah satu peserta musyawarah dari Desa Sendangsari. Kegiatan ini sejalan degan beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), terutama poin 1 No Poverty (Tanpa Kemiskinan) dengan harapan dapat meningkatan ekonomi masyarakat sekitar hutan, poin 4 Quality Education (Pendidikan Berkualitas) dengan peningkatan kompetensi mahasiswa dan Masyarakat, poin 8 Decent Work and Economic Growth (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) diharapkan nantinya dapat menciptaan lapangan kerja hijau, poin 13 Climate Action (Penanganan Perubahan Iklim) dengan pelestarian tutupan hutan untuk mitigasi iklim, serta poin 15 Life on Land (Ekosistem Daratan) melalui perlindungan dan pengelolaan sumber daya hutan secara berkelanjutan. Dengan demikian, multi usaha kehutanan menjadi strategi dan langkah nyata dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di tingkat tapak.
Penulis: Muhammad Husain Al Khansu